Posted in

Andaliman di Balik Aek Natonang

Kristina Apri Jaya Sinaga

Sastra Indonesia B 2022

Di sebuah desa kecil bernama Lumban Nainggolan, yang terletak tak jauh dari Aek Natonang—danau kecil di atas perbukitan Toba—hidup seorang pemuda bernama Togar Simanjuntak. Sejak kecil, Togar dikenal berbeda dari pemuda seusianya. Jika yang lain suka memanjat pohon mangga atau berenang di sungai, Togar lebih senang duduk di dapur, memperhatikan ibunya memasak saksang, mencium aroma andaliman yang mendesis di atas api kayu.

Ibunya, Ina Boru Siahaan, sering berkata, “Togar, kamu bukan anak laki-laki biasa. Kamu punya lidah yang lebih tajam dari pisau dapurku.”

Togar hanya tertawa kecil. Ia tahu, di tanah Batak Toba yang keras, menjadi laki-laki bukan hanya soal otot dan keberanian, tapi juga tentang bagaimana menjaga warisan. Dan bagi Togar, warisan itu bukan hanya adat, tapi juga rasa—rasa dari masakan yang dibesarkan oleh tangan para ibu selama ratusan tahun.

Hari-hari Togar diisi dengan membantu ibunya di ladang, merawat tanaman andaliman yang tumbuh liar di balik batu-batu besar, dan menulis resep di buku kecil yang selalu ia simpan di saku baju. Ia tidak pernah jauh dari Toba, tidak seperti teman-temannya yang merantau ke Medan, Jakarta, atau bahkan Malaysia.

“Togar, kau harus keluar dari kampung. Dunia luas,” kata sahabatnya, Pardamean, suatu sore sambil duduk di pinggir danau.

Togar hanya menatap permukaan danau yang tenang. “Aku tidak perlu pergi jauh untuk menemukan dunia. Dunia ada di sini, di piring kita.”

Pardamean tertawa, “Kau gila. Tapi aku suka kegilaanmu itu.”

Suatu hari, pemerintah daerah mengumumkan lomba kuliner tradisional antar-desa se-Kabupaten Toba. Hadiahnya cukup menggiurkan: uang tunai, piagam, dan kesempatan untuk mewakili Toba dalam festival kuliner Sumatera Utara di Balige.

Kepala desa, Pak Lumbantobing, mengumumkan hal itu lewat pengeras suara masjid dan gereja sekaligus. “Siapa pun yang punya nyali, bawa rasa Batak kita ke panggung!”

Malam harinya, Togar berbicara pada ibunya.

“Nai, aku ingin ikut lomba itu.”

Ibunya menatapnya lama. “Kau yakin? Orang kampung ini belum tentu bisa terima laki-laki yang lebih pandai masak daripada berladang.”

Togar mengangguk. “Biarlah aku jadi yang pertama.”

Persiapan dilakukan secara diam-diam. Togar tak ingin diganggu oleh cibiran. Ia memilih masakan yang menurutnya paling mewakili jiwanya: Manuk Napinadar—ayam bakar khas Batak yang disiram darah ayam yang sudah dicampur rempah dan andaliman.

Namun, ia menambahkan sentuhan pribadinya. Ia menggunakan teknik pengasapan dengan kayu jambu kampung, memberikan rasa smoky yang lembut. Ia juga menyiapkan sambal tuk-tuk dengan mangga muda dari ladang sendiri, sesuatu yang belum pernah dicoba oleh siapa pun di desanya.

Hari perlombaan tiba. Di lapangan desa, satu per satu peserta dari berbagai desa mulai menyajikan hidangan mereka. Ada naniura dari Siborongborong, arsik dari Porsea, dan saksang dari Laguboti.

Ketika giliran Togar tiba, banyak orang terdiam. Mereka tidak menyangka pemuda yang jarang ke ladang dan lebih sering mengaduk adonan di dapur itu mampu menyajikan sesuatu yang begitu rapi dan harum.

“Ini… manuk napinadar?” tanya salah satu juri.

“Ya, Opung. Tapi saya tambahkan pengasapan dan sedikit sambal dari mangga muda.”

Sang juri mencicipi. Hening sesaat. Lalu mata tuanya berbinar. “Andaliman-nya… menari. Kau tahu, ini bukan hanya memasak. Ini merawat ingatan.”

Togar menang juara pertama.

Malam itu, kampung riuh oleh sorak-sorai. Opung-opung yang dulu mencibir, kini mengangkat gelas tuak dan bersulang atas nama Togar. Bahkan Pak Lumbantobing mendekatinya dan berkata, “Kalau dulu aku tahu rasa bisa membuat orang lupa kekakuan adat, mungkin aku sudah lama suruh anakku jadi koki!”

Namun bagi Togar, yang paling berharga bukan tepuk tangan atau hadiah uang. Melainkan tatapan ibunya yang penuh bangga, dan satu kalimat pelan di tengah keramaian: “Anakku, kau telah membuat rasa Batak kita bangkit dari tidur panjang.”

Tak lama setelah kemenangannya, Togar diundang ke Balige untuk mengikuti festival kuliner tingkat provinsi. Ia kembali membuat Manuk Napinadar, tapi kali ini ia menyajikannya dalam bentuk “Lappet Ayam”—gulungan nasi dan daging ayam dalam daun pisang, dilumuri saus andaliman dan diasap selama tiga jam. Orang-orang kota tercengang. Mereka tidak menyangka makanan desa bisa tampil sekelas restoran bintang lima.

Salah satu juri dari Jakarta, seorang chef ternama, mendekatinya usai perlombaan.

“Namamu Togar, ya? Aku sedang mencari asisten untuk membuka restoran di Jakarta. Bagaimana kalau kamu ikut?”

Togar tersenyum. Ia menatap Danau Toba dari balkon penginapan, lalu menjawab pelan, “Terima kasih, Chef. Tapi untuk saat ini, biarkan aku membuat dapurku sendiri di kampung. Aku belum selesai di sini.”

Togar kembali ke Lumban Nainggolan. Dengan uang hadiahnya, ia membuka “Dapur Toba”—sebuah rumah makan kecil di pinggir Aek Natonang. Ia menata sendiri desain interiornya: kursi rotan, meja dari kayu pinus, dan lukisan nenek moyangnya di dinding. Menu pertamanya: Manuk Napinadar versi festival, Naniura Ikan Mas, dan Jus Andaliman. Setiap malam, pengunjung berdatangan. Bukan hanya orang kampung, tapi juga wisatawan dari Medan, Jakarta, bahkan luar negeri. Mereka datang bukan hanya untuk makan, tapi untuk merasakan cerita.

Di setiap hidangan, Togar menyisipkan sejarah. Ia bercerita bagaimana andaliman dahulu hanya digunakan untuk upacara adat, bagaimana saksang adalah simbol keberanian, dan bagaimana rasa pahit bisa menjadi kenangan manis jika dimasak dengan hati. Suatu sore, saat Togar sedang duduk di belakang restoran, melihat matahari tenggelam di balik danau, Pardamean datang.

“Jadi, dunia benar ada di sini, Tog?”

Togar tersenyum. “Dunia memang luas, Dame. Tapi aku lebih senang jika dunia datang ke sini untuk merasakan Batak kita.”

Pardamean mengangguk. “Kau gila. Tapi gila yang benar.”

Mereka tertawa, suara mereka menggema bersama angin dari danau, bersama aroma andaliman yang tetap setia menemani di dapur kecil Dapur Toba. Dan di suatu tempat, leluhur mereka mungkin sedang tersenyum bangga.

Namun, tidak semua orang senang dengan kesuksesan Togar. Beberapa tetua adat mulai merasa tersaingi, apalagi ketika Togar mulai diundang ke berbagai festival budaya dan kuliner untuk mewakili Toba. “Apa arti warisan kalau dibumbui dengan gaya kota?” ujar salah satu tokoh adat dalam sebuah rapat desa. Tapi Togar tidak gentar. Ia tahu bahwa yang ia bawa bukan pengkhianatan, melainkan pembaruan. Ia tetap datang ke pesta adat, tetap menyembelih babi bersama para tetua, tetap menghormat kepada opung-opung dengan dua tangan di dada.

Suatu hari, seorang gadis Batak dari Tarutung datang ke Dapur Toba. Namanya Mariati boru Manurung, mahasiswa antropologi kuliner dari UGM yang sedang meneliti tradisi makanan Batak. Mereka langsung cocok—Togar dengan kisah-kisah rasa, Mariati dengan risetnya tentang makna di balik masakan. Mereka mulai memasak bersama, menggabungkan pengetahuan dan cinta mereka terhadap budaya. Dapur Toba tak hanya menjadi tempat makan, tapi juga ruang belajar, tempat diskusi, bahkan laboratorium kecil bagi mahasiswa yang ingin memahami Batak dari sudut pandang rasa.

Pada perayaan ulang tahun Dapur Toba yang ketiga, Togar mengadakan acara makan bersama untuk seluruh warga desa. Tidak ada tiket masuk, tidak ada kursi VIP, semua duduk di atas tikar pandan seperti masa kecil dulu. Togar berdiri di tengah lapangan, mengangkat sendok kayu besar, dan berkata, “Kita tidak hanya berbagi makanan hari ini, kita berbagi cerita, berbagi ingatan, dan berbagi masa depan.” Suaranya menggema, disambut tepuk tangan dan air mata dari para ibu yang merasa masakan mereka akhirnya dihargai.

Malam itu, ketika api unggun menyala dan lagu-lagu Batak kuno dinyanyikan oleh para pemuda, Togar duduk di samping ibunya. Ia menggenggam tangan wanita yang pertama kali mengenalkannya pada rasa, pada bumbu, pada keberanian mencintai jalan sendiri. Di atas langit Aek Natonang, bintang-bintang tampak lebih dekat, seolah ikut merayakan bahwa rasa Batak tak akan pernah padam—selama masih ada andaliman, selama masih ada anak muda yang percaya bahwa dapur pun bisa menjadi medan juang.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *