Posted in

Kembali Ke Akar

Ayu Anggraeni br Simbolon

Sastra Indonesia A

Di kaki Bukit Sipiso-piso, ada sebuah desa yang masih asri dan damai. Kabut pagi masih menyelimuti rumah-rumah adat Simalungun yang tertata rapi, seakan menjaga suasana yang penuh sejarah dan tradisi. Di desa itulah, Rando tinggal bersama opung borunya sejak kecil. Marga Saragih yang melekat dalam darahnya selalu menjadi bagian utama dalam cerita-cerita yang opung ceritakan padanya.

“Rando, kau ini anak marga Saragih. Jangan lupa asalmu, ya,” kata Opung Boru suatu hari saat mereka duduk santai di beranda rumah kayu mereka yang penuh ukiran. Suara opung lembut, penuh kasih. “Adat kita itu bukan cuma soal upacara saja, tapi ikatan hati dan cara kita menjaga hubungan dengan sesama dan juga dengan alam.”

Rando mengangguk, mencoba menyimak. Tapi, saat itu pikirannya masih melayang-layang pada mimpi-mimpi yang lebih besar di kota. “Opung, aku tahu. Tapi di kota, banyak hal yang berbeda. Semua harus cepat, tidak bisa pakai cara lama terus,” jawab Rando dengan agak ragu.

“Kadang kau harus percaya, Nak, bahwa akar yang kuat akan menahan pohon berdiri tegak.” Opung Boru tersenyum sabar melihat kebingungan cucunya.

Namun seiring waktu, Rando beranjak dewasa dan memilih merantau ke kota besar. Di sana, ia bertemu dengan kehidupan yang sangat berbeda. Kesibukan, kompetisi, tuntutan untuk bisa “cepat dan praktis” seperti yang ia bilang dulu, membuat Rando semakin jauh meninggalkan warisan budayanya. Ia merasa adat-istiadat itu semakin terasa beban, sesuatu yang kuno dan tak lagi relevan.

Suatu hari, saat sedang sibuk bekerja di sebuah kantor, telepon dari kampung datang membawa berita duka: Opung Boru meninggal dunia. Dalam hati, Rando merasa terhempas. Ia segera mengajukan cuti dan pulang ke desa.

Sesampainya di kampung, suasana berbeda dari yang ia bayangkan. Penduduk kampung sudah berkumpul, mengenakan pakaian adat, mempersiapkan prosesi pemakaman yang kental dengan tradisi Simalungun. Tarian tortor mengalun, gondang berdentang, dan kain ulos diangkat sebagai tanda hormat. Semua berjalan dengan tertib dan penuh rasa kebersamaan. Rando yang selama ini jauh dari akar budaya, merasakan sesuatu yang menggetarkan di dadanya.

“Apa ini? Jangan-jangan aku selama ini salah menilai adat dan budaya kita,” batin Rando.

Selesai acara, seorang tetua bernama Pak Tua menghampirinya dengan senyuman hangat tapi penuh arti. “Anakkon hi do hamoraon di au,” ujar Pak Tua sambil menepuk bahu Rando. “Jangan kau lupakan tanahmu ini. Darah dan budaya ini mengalir di tubuhmu, dan itu kekuatanmu.”

Rando menatap mata Pak Tua yang penuh ketulusan. “Pak, aku sudah lama jauh, dan aku merasa seperti lupa siapa diriku sebenarnya. Tapi aku mau belajar lagi. Aku mau tahu apa arti dari semuanya yang dulu opung ceritakan.”

“Bagus, anakkon. Kalau kau sudah sadar, jalanmu akan terang,” kata Pak Tua sambil tersenyum.

Malam itu, Rando duduk terpaku di beranda rumah opung. Hiruk pikuk kota begitu jauh, tapi desiran angin malam desa dan aroma tanah basah membawa nostalgia dalam hatinya. Ia membuka tas dan mengeluarkan ulos pemberian opung dulu. “Aku janji, Opung, aku akan bawa warisan ini hidup. Aku akan jaga dan teruskan.”

Keesokan harinya, Rando mengajak Pak Tua berjalan menyusuri hutan kecil dekat desa. Menusuri akar pohon-pohon tua, mendengarkan suara burung-burung yang saling bersahut-sahutan. “Pak, aku bingung. Bagaimana cara aku bisa tetap pegang adat di tengah kerasnya kota? Kadang aku merasa, adat itu bikin aku lambat dan susah maju.”

Pak Tua mengangguk mengerti. “Adat itu seperti akar pohon yang dalam, Nak. Kadang ranting patah, tapi akar tetap kokoh menjaga pohon berdiri. Kau harus pegang akar itu. Jangan sampai kau lupa akar, meskipun ranting mengikuti angin zaman.”

Rando mulai mengerti. “Jadi, aku tidak harus meninggalkan tradisi ini, tapi mengadopsinya dengan cara yang sesuai zaman?”

“Tepat sekali! Jadikan adat sebagai pelita, bukan beban.”

Hari-hari berikutnya, Rando mulai aktif di kampung. Ia membantu warga mempersiapkan acara adat, belajar menari tortor, dan bahkan ikut gotong royong membangun fasilitas desa. Ia merasakan kebahagiaan yang tak ia temukan di kota.

Saat hendak kembali ke kota, teman-teman masa kecilnya berkumpul dan berkata, “Rando, kau berubah ya! Kayak lebih dewasa dan bijak.”

Rando tertawa, “Iya, aku belajar banyak dari opung dan dari kampung. Aku mau bawa nilai-nilai itu ke kota.”

Sesampainya di kota, Rando mulai merubah cara pandangnya. Ia sering cerita ke teman-teman kantor tentang adat Simalungun dan betapa pentingnya gotong royong. “Kalian tahu nggak, di kampung aku, kami punya adat namanya harungguan, musyawarah yang ngajarin kita saling dengar dan bekerja sama,” katanya.

Teman-temannya yang awalnya cuek jadi mulai tertarik. “Wah, keren juga, ya! Kita bisa coba sesuatu kayak gitu di sini,” kata Dika, temannya yang paling akrab.

Rando tersenyum. “Yuk, kita mulai dari hal-hal kecil. Misalnya, ngobrol bareng dan bantu-membantu tanpa harus disuruh.”

Hari berganti hari, Rando terus mengajak lingkungannya sadar akan pentingnya nilai kebersamaan dan menghargai budaya. Ia tahu tak mudah, tapi yakin dengan akar yang kuat, ia bisa jadi jembatan antara modernitas dan tradisi.

Suatu sore, saat menatap layar laptop dan secangkir kopi di meja kerja, Rando berbisik pada dirinya sendiri, “Warisan dari Tano Simalungun ini bukan cuma cerita lama, tapi semangat hidup yang mau aku bawa terus. Dari desa ke kota, dari masa lalu ke masa depan.”

Ia tahu, jalan yang dipilih tak selalu mudah, tapi dengan hati yang tulus, Rando siap menghadapinya dan jadi orang yang bisa membanggakan bukan hanya dirinya, tapi juga marga dan kampung halamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *