Posted in

Sahat

Marlise Henjelina Butar Butar

Sastra Indonesia C 2022
https://www.instagram.com/mrlse_

Di balik perbukitan yang hijau dan langit yang senantiasa bersahabat, tersembunyi sebuah desa kecil bernama Meat. Desa ini duduk tenang di pelukan Danau Toba, jauh dari bising kota, dan jauh pula dari deru mesin modern yang sibuk. Meat bukanlah desa yang padat oleh penduduk. Hanya ada belasan rumah panggung yang berarsitektur rumah adat batak toba. Di desa inilah tinggal sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari pasangan suami istri yaitu, pak Anggiat, mak Saroha, dan tiga orang anaknya Sahat, Uli, dan Gabe.

Sahat adalah anak laki-laki panggoaran (anak sulung) yang berusia 17 tahun yang duduk di bangku kelas XII SMA negeri di kecamatannya, tetapi beban yang ditanggungnya tidak sebanding dengan usianya. Keluarga mereka hidup dalam ekonomi yang penuh dengan keterbatasan. Bapaknya, pak Anggiat (Amani Sahat) hanya bekerja sebagai petani dan mamaknya hanya seorang ibu rumah tangga dan buruh tani ke sawah orang lain. Meskipun dengan keterbatasan ekonomi dalam keluarganya, Sahat mempunyai cita-cita ingin melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi. Cita-cita Sahat itu juga sangat di dukung oleh kedua orang tuanya. Walaupun Sahat terkadang merasa bahwa keinginannya untuk sampai ke perguruan tinggi mustahil dikarenakan kondisi ekonomi mereka yang terbatas dan kedua adik-adiknya juga masi bersekolah. Namun, bapak dan mamaknya selalu meyakinkan Sahat bahwa mereka dapat membantu Sahat
mewujudkan keinginannya tersebut.

“Anakkon hi do hamoran di au (anakku adalah harta yang paling berharga), kerjarlah cita- cita mu amang, bapak dan mamak akan selalu mendukung mu, jangan takut kau masalah biaya,tupa do sude di lehon Tuhani (semua akan di sediakan Tuhan), soal adek-adek mu tak usah kau pikiri, kalau sukses kau pasti sukses adek-adek mu ini. Jadi belajar yang rajin, tingkatkan prestasi, dan berdoa sama Tuhan ya mang,” ujar Pak Sahat sambil menepuk-nepuk bahu Sahat dengan lembut.

Kata-kata itu merupakan sebuah penyemangat bagi Sahat untuk terus berusaha meningkatkan prestasinya dalam mencapai cita-citanya untuk duduk di bangku perkuliahan. Setiap harinya, sebelum ayam berkokok Sahat sudah bangun. Sahat akan membantu bapaknya memberikan makan ayam peliharaan mereka serta membantu mamak dan adik-adiknya Uli, dan Gabe membersihkan rumah dan mempersiapkan sarapan mereka. Baru setelah itu Sahat akan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah bersama adiknya, Uli yang sedang duduk di bangku SMP menggunakan sepeda butut bekas pemberian tetangga mereka. Sedangkan adiknya Gabe akan berjalan kaki ke sekolahnya yaitu SD di dekat rumah mereka. Setiap hari Sahat akan mengayuh sepeda bututnya menuju sekolah mereka yang jaraknya 5 kilometer dari rumah mereka. Terkadang Sahat dan Uli datang terlambat kesekolah dikarenakan sepeda butut mereka sering rusak tiba-tiba ditengah perjalanan yang mengharuskan mereka berjalan untuk sampai ke sekolah. Tetapi dengan semua kesulitan itu, Sahat tidak pernah berhenti menyerah, ia selalu semangat untuk datang ke sekolah, karena Sahat tau untuk mengubah nasibnya dan keluarganya ia harus rajin belajar dan sekolah setinggi- tingginya.

Di sekolahnya Sahat merupakan anak yang berprestasi, nilai-nilainya bagus di berbagai mata pelajaran. Sikapnya yang baik dan sopan juga membuat guru-gurunya menyayanginya dan menjadikan dirinya sebagai contoh pantutan untuk teman-temannya serta mendukung cita-citanya yang ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Namun tidak semua teman-temannya mendukungnya. Beberapa temannya mengejeknya bahwa ia bermimpi terlalu tinggi.

“so i boto ho lungun mu (tidak tahu keadaan kau), Sahat. Orang tuamu pun cuman petaninya, tapi mimpi mu udah setinggi langit, jangan terlalu tinggi bermimpi, kalau sekali jatuh sakit kali, sudahlah gimanapun kau buat tetap akan jadi pangula do ho (petani), bolo daong par proyek(kalau tidak jadi kuli bangunan)” ujar teman-temannya. Meskipun banyak orang meragukan mimpinya Sahat tidak pernah putus asa, malah Sahat menjadikan itu sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa dia akan meraih mimpinya itu.

Selama ini setelah Sahat pulang dari sekolah, Sahat akan pergi ke toko pupuk yang ada di dekat kantor kecamatan untuk bekerja. Ia bekerja sebagai pengangkut pupuk untuk diantarkan ke pembeli. Gaji yang didapat dari toko pupuk itu Sahat kumpulkan untuk membantu ekonomi keluarganya serta tabungan untuk ia kuliah. Saat matahari hampir tenggelam Sahat akan pulang ke rumah, memberikan makan ayam peliharaan mereka serta membantu adik-adiknya membersihkan dan mempertahankan makanan sebelum orang tua mereka pulang.

Setelah beberapa bulan, akhirnya masa SMA Sahat akan selesai. Pendaftaran kuliah lewat jalur rapot dan prestasi dibuka dan hasil yang di dapat oleh Sahat begitu memuaskan. Sahat terdaftar sebagai siswa eligible dan berhak mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi lewat jalur rapot dan prestasi. Sahat sangat bersyukur akan hal tersebut. Sahat tidak sabar ingin membagikan kabar bahagia ini bersama orangtua dan adik-adiknya. Saat malam tiba, selesai mereka makan malam bersama Sahat membagikan kabar bahagia tersebut kepada orang tuanya. Orang tuanya dan adiknya sangat bahagia, bahkan mamak Sahat sampai menangis memeluk Sahat sambil berkata “anak panggoaran ku, sae sukses maho amang, sae dapotmu na pinarsitta ni roham da mang (anak pertama ku, semoga sukses, semoga keinginan mu terkabul)” ujar mamak Sahat. Dengan berbekal restu dan doa orang tuanya serta doanya kepada Tuhan , Sahat mengurus semua berkas-berkas pendaftarannya dan akhirnya ia berhasil mendaftar dengan lancar dan tinggal menunggu hasil pengumumannya.

Sebulan kemudian pengumumannya keluar, nama Sahat terpampang di koran yang berisi pengumuman siswa yang lulus ke perguruan tinggi. Sahat lulus ke salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dengan beasiswa. Semua orang tercengang dan terheran-heran, anak seorang petani dari desa kecil lulus ke perguruan tinggi top di Indonesia. Sahat yang membaca koran tersebut, berlari ke arah sawah tempat orang tuanya bekerja, ia memanggil kedua orang tuanya sambil berteriak ” mak, pak aku lulus, bisa kuliah aku mak pak” yang membuat orang tuanya segera menghampirinya serta membaca pengumuman yang ada di koran dan langsung memeluk Sahat saat membaca nama anak mereka ada di dalam koran itu.

Setelah hari kelulusan tiba, akhirnya tibalah waktunya Sahat pergi meninggalkan keluarga dan desanya untuk menempuh pendidikan di kota yang berbeda. Sahat pergi berbekal doa restu orang tuanya serta uang tabungan dan pinjam dari toke padi yang di berikan oleh bapaknya kepada Sahat. Sahat pergi meninggalkan orang tuanya dengan membawa harapan dapat mengubah nasi keluarganya. Harapan tersebut nyatanya berhasil terwujud. Oleh karena usaha dan kerja kerasnya Sahat berhasil lulus dalam 3,5 tahun. Setelah lulus Sahat langsung mendapatkan pekerjaan yang bagus sehingga ia dapat membantu keuangan keluarganya yang di desa sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya beberapa tahun berlalu, Sahat pulang ke desanya. Sahat yang pulang ke desa bukanlah Sahat yang dulu. Sahat yang sekarang pulang ke desa sudah sukses, Sahat membangun rumah keluarganya, membeli lahan sawah untuk bapaknya, membangunkan tokoh sembako untuk mamaknya, serta menyekolahkan adik-adiknya di sekolah yang bagus. Sahat yang diragukan semua orang akan mimpinya berhasil membuktikan bahwa dia bisa mencapai mimpi yang orang- orang bilang setinggi langit. Sahat membuktikan dengan mimpi dan cita-citanya dia bisa mengubah nasibnya dan keluarganya. Akhirnya Sahat membuktikan tidak ada salahnya bermimpi setinggi langit, karna usaha dan kerja keras akan membawa kita meraih mimpi itu. Sama seperti namanya SAHAT/ SAI SAHAT MA yang berarti semoga ataupun harapan. Sahat membangun mimpinya dengan harapan dapat mengubah nasibnya dan keluarganya, dan harapan itu diwujudkan dengan sekolah setinggi tingginya.

HORAS~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *