“Pertemuan yang membawa keindahan dan pengetahuan. Akan dikenang, seumur hidup.”
“Perjumpan si baba kiniuliin ras pemeteh si man ingeten Ibas kegeluhen enda”
Cafe yang berada diujung gang sempit yang berada ditengah-tengah perkotaan yang padat itu tidak seramai seperti cafe lainnya. Cafe yang selalu kedatangan pelanggan yang sama hampir setiap harinya, gadis yang di kuncir kuda duduk di pojok ruangan yang ada di cafe. Jika ditanya, seorang barista bahkan sudah mengenali pesanan apa yang akan diminum oleh gadis itu.
Gadis itu hanya terus berfokus kepada laptop yang berada di depannya. Laptop yang mungkin tidak berhenti bekerja selama 2 bulan penuh.
Luciana Cinta, itu nama gadis yang berfokus pada laptop dan secangkir kopi di samping laptop nya. Luci, itu nama panggilannya. Sedikit bercerita tentang Luci, dia adalah seorang penulis. Karya Luci memang unik, karena setiap karya yang ditulisnya selalu berkaitan dengan alam. Anggapan Luci yang mencintai alam itu benar.
“Luci..” Panggilan pelan, tetapi Luci dapat mendengarkan suara itu.
Teman seperjuangan saat masih kuliah dulu, Melinda namanya.
“Kenapa lagi? writer’s block lagi kan kamu?” tanya Melinda curiga, Luci hanya tersenyum dan mengangguk.
“Udah di bilang, coba bahas tentang kuliner-kuliner di Indonesia.” lanjut Melinda, ia mengambil kopi milik Luci dan meminumnya.
Luci hanya bisa tersenyum, jika ditanya teman yang selalu membantu nya untuk menemukan ide-ide kreatif untuk menulis karya nya. Melinda adalah jawabannya, mungkin benar kuliner Indonesia adalah pilihan yang tepat untuknya menulis kelanjutan cerita yang ia tuliskan. Tapi jika membahas kuliner Indonesia begitu banyak sekali.
“Aku mau pesen minum sama cemilan, kamu mau aku pesenin apa lagi?” tanya Melinda, kemudian Luci melirik kearah barista yang berdiri menatap mereka berdua.
“Barista nya udah tau aku mau pesen apa.” jawab Luci dan tersenyum ke arah Melinda.
Melinda langsung berjalan kearah Luci, kemudian membisikan, “Jangan bilang kamu ada apa-apa sama Mas Barista nya yah Luci…”
Luci menarik alisnya satu, dan mengabaikan pernyataan dari Melinda. Ia langsung mengusir Melinda untuk segera pergi memesan menu berikutnya.
Entah mengapa Luci tiba-tiba ingat ucapan barista yang kini sedang melayani Melinda, kue cimpa yang berasal dari suku Karo. Luci segera mengetik cimpa di internet, dan yang keluar langsung menunjukkan bahwa cimpa adalah makanan khas suku Karo. Cimpa menjadi makanan penting dalam acara-acara adat Karo.
Bahkan kue tradisional itu ada tiga jenis, cimpa tuang, cimpa matah, dan cimpa bohan. Luci membuka mulutnya sedikit, ternyata ada sebuah makanan yang seperti itu. Bahkan mencicipi nya saja Luci tidak pernah.
Bahan-bahan yang digunakan juga tidak begitu sulit, tapi percuma saja mudah kalau Luci tidak pandai memasak. Sepertinya kini Luci sudah punya tujuannya untuk menceritakan beberapa kuliner Indonesia yang tidak diketahui olehnya.
- • • • • • •
Ada janji temu yang sudah dijadwalkan oleh Luci dan barista yang bekerja di cafe tempat biasa yang menenangkan pikiran serta mencari ide untuk menulis. Janji temu yang dilakukan keduanya, untuk wawancara terkait kuliner khas Karo yang diketahui oleh barista tersebut.
Sore ini, Luci sudah duduk di sebuah taman yang ia janjikan. Luci datang lebih awal dari jam Yangs udah ditetapkan, kini Luci hanya melihat anak-anak yang berlari saling mengejar satu sama lain. Luci hanya tersenyum, kemudian ia melihat kearah lelaki yang berpakaian serbah hitam. Iya itu barista yang bekerja di cafe, bahkan penampilan tetap sama seperti di cafe.
“Maaf kalau kamu lama menunggu saya.” ucapan maaf itu ditujukan kepada Luci.
“Aku gak nunggu lama kok, memang aku kecepatan datangnya.”
“Saya belum memperkenalkan diri, saya Liyan.” Luci menganggukkan, dan memajukan tangannya untuk bersalaman.
“Luci, yahh walaupun kamu pasti udah tahu.” ujar Luci, kemudian melepaskan salaman perkenalan mereka.
“Kamu mau saya bawa ke suatu tempat? kamu bilang mau coba cimpa atau kuliner khas Karo lainnya.” Mata Luci berbinar, gadis itu langsung mengangguk.
Liyan yang merasa Luci begitu lucu, ia sontak terkekeh. Gadis yang berasal dari Jakarta ini, ke Medan hanya ingin melanjutkan cerita nya yang sudah ia pikirkan dari jauh-jauh hari. Kedatangannya 2 bulan yang lalu di cafe miliknya, membuat Liyan sedikit tertarik untuk menawarkan ide cerita tentang kuliner yang ada di Medan.
Liyan membawa Luci dengan sepeda motor miliknya ke sebuah tempat yang dimana akan menikmati langsung kue cimpa langsung buatan tangan dari suku Karo. Setelah menempuh perjalanan yang cukup singkat itu, Liyan memberhentikan motor nya di sebuah rumah dengan halaman yang luas. Ada seorang lelaki yang berdiri disana seperti sudah tahu akan kedatangan mereka.
Liyan langsung bersalaman tanpa ragu, salaman seperti teman lama yang tidak lama bertemu. Luci hanya tersenyum ketika lelaki itu melihat ke arahnya.
“Kenalin, ini penulis yang pernah aku bilang ke kau. Pengin ngerasain cimpa.” Ujar Liyan, lelaki itu mengangguk.
“Saya Andreas pemilik rumah, kebetulan saya memang dari suku Karo. Tapi jangan berharap lebih, saya lebih sering tinggal di Jakarta. Ke Medan karena ada urusan, dan ternyata Liyan ngajak untuk ketemu sambil membawa teman baru untuk dikenalkan sama kue tradisional cimpa dari karo.” Jelasnya sebagai perkenalan awal, dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Luci.
Luci membalas menjabat tangan, “Saya Luci, berasal dari Jogja. Ingin dikenalkan sama kue cimpa, sepertinya unik.” balas Luci.
Tanpa menunggu lama, Andreas membawa mereka masuk kedalam rumah nya. Menuntut mereka ke sebuah tempat di bagian belakang rumahnya, disana mereka duduk di sebuah pekarangan yang luas yang ternyata sudah tersedia sebuah meja dan kursi khusus.
Bahkan disana Andreas juga sudah menyiapkan bahan-bahan masakan untuk membuat cimpa, Jujur saja Luci kagum dengan hal ini.
“Dia dulu pernah sekolah masak, juga mewariskan resep dari Ibu nya.” Bisik Liyan, Luci menoleh dan mengangguk.
“Andreas bukan kah terlalu merepotkan kamu?” tanya Luci, Andreas terkekeh.
“Tidak sama sekali, justru senang karena ada yang ingin mengetahui tentang cimpa. Lebih baik, kamu siapin kamera kamu untuk merekam cara pembuatan nya.” Andreas menunjuk kearah kamera yang dibawa oleh Luci.
Luci tersenyum, bersyukur ia bertemu orang baik seperti Liyan dan kini justru bertemu dengan Andreas.
“Mungkin kita mulai dari pembuatan cimpa unung-unung.” tunjuk Andreas, Luci mengangguk.
“Jika kamu tanya cara pembuatan nya, ini mudah. Cuma tepung beras dan ketan, kelapa parut, gula merah, dan santan. Dan jangan lupa daun pisang.” Kata Andreas.
Dengan tangan lihat dari Andreas, ia mencampurkan beberapa bahan seperti kedua tepung yang dicampur dalam satu wadah dengan tambahan beberapa ml air. Cara Andreas mengaduk itu sempurna, bahkan Luci sendiri kagum.
“Sebelumnya aku sudah buat isian dari cimpa, ini dari kelapa parut dan gula merah.” Andreas menunjukkan ke Luci.
Lagi-lagi Luci di buat kagum dengan cara Andreas memasukkan adonan dan ditengah-tengah ditaruh isian, dan melipat daun pisang tersebut dengan rapi.
“setelah itu nunggu dikukus. Aku cuma bisa perlihatkan cara memasak cimpa unung-unung karena kamu. Karena memang simple, dan kamu bisa buat dirumah. Jadi karena menunggu cimpa unung-unung ini matang, kita bakalan cobain cimpa tuang.”
Andreas mengeluarkan kue cimpa tuang yang sebelumnya sudah ia siapkan sedari awal. Meletakan di meja.
Luci mengambil satu cimpa tuang, yang menurutnya bentuk cimpa tuang ini seperti dorayaki. Disaat masuk kedalam mulut Luci, gadis itu dibuat kagum dengan rasanya.
“Kalau bahasa Karo enak sekali apa?” tanya Luci kepada Andreas.
Andreas tersenyum, dan melipat kedua tangannya di dada. “Tertarik pakai bahasa Karo juga?” tanyanya.
“Tertarik… Tapi sulit kan belajarnya?”
“Gak sulit banget, kalo bahasa Karo enak sekali itu entabeh kel” Jawab Andreas, Luci mengangguk.
“Entabeh kel” Teriak Luci, membuat Andreas dan Liyan terkekeh.
“Jadi kalau kamu ada pertanyaan bisa tanya langsung ke Andreas.” Liyan mempersilahkan untuk Luci mewawancarai Andreas terkait makanan Karo lainnya.
Liyan sedikit memberikan ruang untuk mereka, memilih memandangi semua hal yang unik dari rumah Andreas ini. Sedangkan Luci dan Andreas menyibukkan dengan hal lain.
Luci mengambil ponsel miliknya, mengetikan sesuatu dan langsung tersenyum puas. Ia melihat ke arah Andreas dan mengucapkan, “Sekali nari merhat denga ka lah aku” (Aku pengin rasain ini dilain hari)
Andreas terkekeh, dan mengacungkan jempol. Usaha Luci dalam menerjemahkan dan membacakan itu yang lucu. Liyan dari kejauhan hanya tersenyum melihat reaksi antara keduanya. Perbincangan antara keduanya cukup banyak sekali, Liyan hanya menunggu dan melihat mereka berbincang terkait kuliner khas Karo, bahkan catatan Luci sudah sangat banyak sekali.
“Bujur ya go bahan ndu kue si entabeh e.” (Terima kasih sudah membuat kue yang enak ini). Kata Luci terbata-bata sambil memegang ponselnya.
“Bujur mulihi, ermeriah ukur tiap wari.” (Terima kasih kembali, semoga hari mu menyenangkan). Balas Andreas dan tersenyum kepada Luci.
Entah berapa kali Luci harus berterima kasih kepada Andreas yang memberikan jawaban-jawaban yang sudah ingin sekali ditanyakan oleh Luci beberapa hari ini tentang makanan-makanan dari suku Karo akhirnya terjawab. Walaupun tidak semua makanan khas Karo sudah dicoba oleh Luci, tetapi berkat Andreas ia banyak mengetahui banyak hal.
Setelah dua minggu pertemuan dengan Andreas, dan Luci masih sering mengunjungi cafe. Hari ini menjadi hari terakhir ia berada di Kota Medan. Selama beberapa bulan ia di Medan, banyak pengetahuan baru yang ia temui. List makanan yang harus dicobai oleh Luci juga sudah tercapai.
Hari ini ia ingin berpamitan dengan sang barista yang kini sedang membuat kopi.
“Liyan.” Panggil Luci.
Liyan menoleh, dan tersenyum. Senyum lelaki itu yang mungkin akan sulit dilupakan oleh Luci.
“Hadiah, terima kasih karena mau kenalin aku sama Andreas beberapa waktu lalu. Nyobain beberapa makanan Karo juga sama Andreas, hari ini aku terakhir disini.” katanya, Liyan menaiki alisnya satu.
Cerita mereka ternyata begitu singkat. Tetapi, entah mengapa enggan untuk berpisah.
“Terima kasih juga hadiah nya, aku terima. Ohh, aku juga mau kasih kamu ini.” Liyan memberikan satu botol tumbler dan sebuah kopi yang baru saja digilingnya.
“Terima kasih, aku pamit pergi.”
Luci pergi dengan membawa hadiah yang diberikan oleh Liyan, sedangkan Liyan kembali menatap punggung belakang Luci. Mungkin, jika ada waktu. Mereka akan bertemu lagi, entah dalam keadaan yang seperti apalagi.
“Pertemuan mereka memang sangat singkat, tapi banyak kenangan yang mereka gambarkan secara tidak sengaja.”
“Perjumpanna entisik, tapi melala si man ingeten sidalanina ras”